Friday, September 25, 2009

Monday, September 22, 2008

Gawat, Batik China Membanjiri Pasar Indonesia!

SEMARANG, MINGGU--Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya dan hasil kerajinan tangan, salah satunya adalah batik, namun, saat ini muncul masalah baru, maraknya batik dari China yang membanjiri pasar di Indonesia termasuk di Kota Semarang.

Pemerintah diharapkan memerhatikan masalah tersebut, guna menjaga kelestarian batik dalam negeri, bahkan Menperindag Fahmi Idris mengatakan, pihak-pihak yang terkait, khususnya Bea Cukai diharapkan mampu mencegah masuknya batik dari negeri lain yang dinilai ilegal tersebut, kata Suseno, S.Pd, dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes) di Semarang, Sabtu.

Bagaimanapun juga Indonesia harus tetap waspada, jangan sampai kejadian beberapa waktu lalu terulang lagi, dimana beberapa kesenian dan budaya asli Indonesia telah dipatenkan oleh negara lain, katanya.

Indonesia memang kurang begitu peduli dan waspada terhadap masalah-masalah tersebut, dan Pemerintah terkesan lamban dalam mengambil suatu kebijakan jika suatu masalah muncul. Harusnya Pemerintah sudah mengambil ancangan guna menanggulangi hal-hal tersebut, katanya.

Sementara itu, H. Abdullah, pedagang batik di Pusat Grosir Setono Pekalongan mengatakan, maraknya batik dari China belum begitu mengkhawatirkan, tapi juga patut untuk diwaspadai.

Selama ini permintaan batik Pekalongan dari luar kota, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Semarang masih cukup tinggi. Mungkin bagi masyarakat awam sulit untuk membedakan mana itu batik Pekalongan dan mana itu batik China, karena secara fisik terlihat hampir sama.

Tetapi hal itu dapat dibedakan yaitu dari segi harga, batik Cina memang lebih murah dibanding batik Pekalongan, namun dari kualitas jelas batik Pekalongan lebih bagus, kata H. Abdullah.

Hal yang sama juga dikemukakan Tantri, seorang pecinta batik yang mengatakan, batik asli Indonesia khususnya batik Pekalongan jauh lebih bagus dari batik China.

Ia menambahkan, batik China sebenarnya bukanlah batik yang sebenarnya, namun tekstil yang bermotif batik, jadi bukanlah batik seperti yang ada di Indonesia.

Memang butuh kejelian untuk mengatasi hal ini. Berbagai pihak terkait harus bahu-membahu mencegah masuknya batik ilegal tersebut.

Menurut Suseno, dasi segi bisnis, China boleh dikatakan mampu melihat peluang pasar di Indonesia, dan ini sah-sah saja. Tapi bagaimanapun juga hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena cepat atau lambat hal-hal serupa juga mungkin akan terjadi, dan ini akan membunuh pasar dalam negeri.

Indonesia sudah seharusnya memberlakukan sistem ekonomi seperti Jepang, dimana produk dari luar negeri diberikan harga lebih mahal dari harga produk dalam negeri, sehingga ini akan menyelamatkan produk dalam negeri, katanya.(ANT)


By Kompas 14 Sept' 2008

Sunday, September 7, 2008

BATIK CIREBONAN

Sudah sejak dahulu Jawa Tengah di kenal masyarakat luas, bahkan hingga ke manca Negara, sebagai daerah pusat kerajinan Batik di Indonesia. Pada umumnya, masyarakat sangat familiar dengan Batik Jogja, Batik Solo ataupun Batik Pekalongan, baik untuk batik tulis maupun batik cetaknya. Padahal, sebenarnya daerah lain di Jawa Tengah juga banyak yang memiliki kerajinan batik dengan ciri khas tersendiri, yang tak kalah cantik dengan batik-batik dari Jogja, Solo ataupun Pekalongan. Salah satunya adalah Batik Cirebonan atau Batik Cirebon.

Setelah sekian lama tenggelam, baru sekitar sepuluh hingga lima belas tahun belakangan, Batik Cirebon kembali mendapatkan popularitasnya. Salah satu daerah yang terkenal sebagai penghasil Batik di Cirebon adalah Trusmi. Oleh karena itu, Batik Cirebon sering juga di sebut dengan Batik Trusmi, di daerah ini pula tercipta berbagai macam corak dan model Batik Cirebon. Secara umum, Batik Cirebon dikenal sebagai batik pesisiran, dengan warna dan coraknya yang lebih cerah dan berani .

Beberapa hal penting yang bisa dijadikan keunggulan atau juga merupakan ciri khas yang dimiliki oleh batik Cirebon adalah sbb:

  • * Desain batik Cirebonan yang bernuansa klasik tradisional pada umumnya selalu mengikut sertakan motif wadasan (batu cadas) pada bagian-bagian motif tertentu. Disamping itu terdapat pula unsur ragam hias berbentuk awan (mega) pada bagian-bagian yang disesuaikan dengan motif utamanya.
  • * Batik Cirebonan klasik tradisional selalu bercirikan memiliki warna pada bagian latar (dasar kain) lebih muda dibandingkan dengan warna garis pada motif utamanya.
  • * Bagian latar atau dasar kain biasanya nampak bersih dari noda hitam atau warna-warna yang tidak dikehendaki pada proses pembuatan. Noda dan warna hitam bisa diakibatkan oleh penggunaan lilin batik yang pecah, sehingga pada proses pewarnaan zat warna yang tidak dikehendaki meresap pada kain.
  • * Garis-garis motif pada batik Cirebonan menggunakan garis tunggal dan tipis (kecil) kurang lebih 0,5 mm dengan warna garis yang lebih tua dibandingkan dengan warna latarnya. Hal ini dikarenakan secara proses batik Cirebon unggul dalam penutupan (blocking area) dengan menggunakan canting khusus untuk melakukan proses penutupan, yaitu dengan menggunakan canting tembok dan bleber (terbuat dari batang bambu yang pada bagian ujungnya diberi potongan benang-benang katun yang tebal serta dimasukkan pada salah satu ujung batang bambu).
  • * Warna-warna dominan batik Cirebonan klasik tradisional biasanya memiliki warna kuning (sogan gosok), hitam dan warna dasar krem, atau berwarna merah tua, biru tua, hitam dengan dasar warna kain krem atau putih gading.
  • * Batik Cirebonan cenderung memilih sebagian latar kainnya dibiarkan kosong tanpa diisi dengan ragam hias berbentuk tanahan atau rentesan (ragam hias berbentuk tanaman ganggeng). Bentuk ragam hias tanahan atau rentesan ini biasanya digunakan oleh batik-batik dari Pekalongan.

Batik Cirebonan Pesisiran sangat dipengaruhi oleh karakter masyarakat pesisiran yang pada umumnya memiliki jiwa terbuka dan mudah menerima pengaruh budaya asing. Perkembangan pada masa sekarang, pewarnaan yang dimiliki oleh batik Cirebonan lebih beraneka warna dan menggunakan unsur-unsur warna yang lebih terang dan cerah, serta memiliki bentuk ragam hias yang bebas dengan memadukan unsur binatang dan bentuk-bentuk flora yang beraneka rupa. [ diambil dari berbagai sumber ]

By Tubanstore

Friday, September 5, 2008

Desa-desa Batik di Jawa Timur

Ketika batik tulis Jawa Timur mulai mendunia, juragan batik di Desa Jetis, Kecamatan Kota, Sidoarjo, justru kesulitan mencari pembatik. Padahal sejak tahun 1922, desa yang letaknya 25 km di selatan Surabaya itu mempunyai predikat sebagai "kampung batik". Dulu hampir di setiap rumah bisa ditemukan orang sedang membatik. Kampung batik itu sekarang tinggal kenangan. Yang tinggal hanya toko-toko penjual pakaian batik, busana muslim, dan kaos. Sedangkan perajin batik yang tersisa tinggal 15 orang. Akibat kurangnya tenaga pembatik di Desa Jetis, akhirnya penggarapan batik terpaksa dilimpahkan kepada pembatik di Tulungagung, Jawa Timur, dan Pekalongan, Jawa Tengah. Upaya itu ternyata memunculkan problem baru dan lebih rumit. Berhubung pembatiknya berada di luar Sidoarjo, juragan harus bolak-balik mengambil batik serta menyerahkan bahan baku. Sistem ini menimbulkan biaya tinggi, dan lebih berat lagi jika pembatik minta seluruh biaya hidup sekeluarga ditanggung juragan batik.

Persoalan semacam ini membuat pengusaha batik di Desa Jetis hilang satu per satu dan kini tinggal 15 industri rumahan batik di desa itu. Memang ada keinginan bangkit kembali, tetapi agaknya tenaga sudah terkuras habis, sehingga kerajinan batik di kampung batik tinggal menunggu lonceng kematian.

Nasib usaha batik rumahan ini pun makin sekarat dengan tumbuhnya desa batik baru di Kecamatan Tulangan Sidoarjo. Segala upaya ditempuh misalnya dengan berinovasi untuk menghadapi "serangan" pemain baru di dunia perbatikan. Apalagi, pendatang baru itu lebih berani dalam menampilkan corak dan warna. Sementara perajin batik Desa Jetis tidak mau melanggar pakem peninggalan leluhurnya. Faktor ini agaknya membuat batik Desa Jetis sebagai cikal bakal perbatikan di Jawa Timur sulit menembus pasar. Saingannya berat karena pendatang baru lebih berinovasi dan tekun dalam upaya pemasaran.

Pemain baru dalam bisnis batik ada yang berani melahirkan corak batik tanpa tema tertentu atau menujukkan ciri khas daerah pembuatannya. "Kalau corak batik tergantung pakem, ya repot soalnya konsumen batik tulis yang selalu diasumsikan kalangan berduit permintaannya beragam terutama corak atau motif dan warna," kata Paina Hartono, pengusaha batik tulis warna alami Tulangan.

Tumbuhnya Desa Patihan, Kecamatan Tulangan, Sidoarjo ini sebagai desa batik baru, merupakan upaya dari Paina Hartono. Di desa yang letaknya 36 km di selatan Surabaya itu, memang hanya ada satu perajin batik, yakni Paina Hartono. Tetapi, sejak tahun 1998 ia telah mengajak hampir seluruh ibu rumah tangga dan remaja bekerja sebagai pembatik. Memang sebenarnya di Desa Kenongo yang terletak di sebelah Desa Patihan, juga sudah ada sebuah industri batik, tetapi industri itu tidak banyak menampung tenaga kerja. Justru dengan kehadiran Paina Hartono semakin banyak warga desa yang mengenal dan mau bekerja di batik. Saat ini jumlah pembatik di Desa Patihan dan Desa Kenongo sebanyak 700 orang.

"Saya berusaha mengajak orang membatik karena saya prihatin, waktu itu banyak sekali orang yang menganggur akibat PHK. Saya ingin orang tahu bahwa kerja batik itu lebih enak daripada kerja di pabrik. Bisa kerja di rumah dan bayarannya pun lumayan. Untuk pembatikan satu lembar kain ukuran empat meter, saya bayar Rp 50.000," kata Paina.

Paina ingin menghapus anggapan orang kerja membatik hanya bisa mendapat uang sedikit. "Memang tidak salah anggapan orang tersebut. Saya sendiri, waktu masih ikut orang, hanya digaji Rp 40.000 per bulan tanpa melihat berapa potong batik yang sudah saya selesaikan. Mungkin ini yang membuat orang akhirnya enggan pada batik," tuturnya.

Sumber : (arn/eta) Kompas Cetak, Jakarta


 

Sunday, August 31, 2008

Batik Madura nan Menawan

Ternyata, Pulau Madura tak hanya tersohor dengan karapan sapi dan garamnya. Wilayah yang termasuk Provinsi Jawa Timur ini juga terkenal sebagai penghasil batik. Bahkan, produk batiknya memiliki ragam warna dan motif yang tidak kalah dengan produksi daerah lain. Maklum, batik Madura menggunakan pewarna alami sehingga warnanya cukup mencolok.

Namun, tak perlu repot-repot ke Pulau Madura. Keunggulan produk batik Madura itu dapat dilihat di Museum Tekstil di Jalan K.S. Tubun Nomor 4, Jakarta Barat. Salah satu contohnya kain batik buatan tahun 1930. Kain panjang yang biasa digunakan pada acara khitanan ini merupakan salah satu kain kuno yang ditampilkan dalam Pameran Batik Madura di Museum Tekstil, belum lama berselang.

Kendati sudah berumur 75 tahun, warna dari kain itu justru kian menonjol. Pewarnaan kain Madura yang menggunakan bahan alami dari tumbuh-tumbuhan, seperti kayu jambal, kulit buah jelawe, akar mengkudu, yang membuat kain ini semakin menarik untuk dilihat. Kain-kain itu dibuat melalui proses pembatikan dengan tangan dalam rentang waktu antara delapan bulan hingga satu tahun.

Selain warna yang mencolok, seperti kuning, merah atau hijau, batik Madura juga memiliki perbendaharaan motif yang beragam. Misalnya, pucuk tombak, belah ketupat, dan rajut. Bahkan, ada sejumlah motif mengangkat aneka flora dan fauna yang ada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Madura.

Sumber : (ANS/Cindy Agustina dan Amar Sujarwadi) Liputan6.com, Jakarta

Saturday, August 23, 2008

YBI Ajukan Batik Indonesia ke UNESCO

Yayasan Batik Indonesia bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia akan mengusulkan ke Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO, agar menetapkan batik Indonesia sebagai Pusaka Dunia Nonbendawi atau Intangible World Heritage seperti wayang dan keris. Nota kesepahaman mengenai hal itu telah disampaikan kepada Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.

Nota kesepahaman menurut rencana hari ini (Jumat) ditandatangani pihak Kadin dan Menko Kesra di Jakarta, Kata Diana Hariyadi, Direktur Manajemen PT Batik Danar Hadi di Solo, Jawa Tengah, Jumat(22/8).

Diana yang juga pengurus pada Yayasan Batik Indonesia (YBI) menambahkan, dalam pengajuan kepada UNESCO itu, YBI dan Kadin akan mengajukan beberapa bukti bahwa batik Indonesia adalah khas Indonesia, terutama dari segi proses produksinya. Diakui, batik merupakan public domain yang juga terdapat di sejumlah Negara.

Upaya YBI dan Kadin Indonesia agar batik Indonesia diakui sebagai pusaka dunia bertujuan agar batik tidak diklaim oleh Negara lain. "YBI hendak mengajukan bukti-bukti tentang batik Indonesia ke UNESCO, antara lain berupa dokumen yang menguatkan bahwa batik benar-benar mengakar dalam budaya bangsa Indonesia," ujar Diana.

Bukti yang berupa dokumen yang akan diajukan antara lain berupa buku Batik, Pengaruh Zaman dan Lingkungan karya Santosa Dullah (pemilik PT Batik Danar Hadi ), serta dokumentasi atas koleksi batik kuno dari Museum Batik Kuno Danar Hadi yang mencapai 10.000 lembar batik dari berbagai daerah dan zaman.

Obyek Wisata Terpadu

Diana menyatakan, kompleks bekas Ndalem Wuryaningratan yang diresmikan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Jumat malam, menjadi House of Danar Hadi adalah obyek wisata terpadu. Bangunan bekas ndalem (istana kecil) seluas 3.500 meter persegi, di areal seluas 1,5 hektar yang terletak di jalan Slamet Riyadi, Solo, ini dilengkapi Museum Batik Kuno, bangunan serbaguna Sasana Mangunsuka, serta toko batik dan cenderamata.

KPH Wuryaningrat (1885-1967) yang namanya diabadikan itu pernah menjadi Ketua Pengurus Besar Boedi Oetomo (BO), paviliunnya menjadi kantor BO. Selaku pejuang perintis kemerdekaan, almarhum menerima penghargaan Bintang Mahaputra dari Presiden Soekarno.

Koes Martyantono (39), cucu KPH Wuryaningrat, dalam kesempatan itu atas nama keluarga besar Wuryaningrat menyampaikan penghargaan kepada Batik Danar Hadi yang telah memugar Ndalem Wuryaningratan. (ASA)

By Kompas, 23 Agustus 2008 Hal. 23

Friday, August 22, 2008

BERITA SEPUTAR BATIK DAN KERAJINAN


 

Deklarasi Kesepakatan Pembentukan Klaster IKM Perhiasan Perak di DIY (17 November 2007)

Dalam rangka pengembangan IKM perhiasan perak di DIY, agar mempanyai daya saing yang kuat di pasar global, maka para stakholder di bidang perhiasan perak di Yogyakarta menandatangani sebuah deklarasi kesepakatan pembentukan klaster IKM perhiasan perak, bertempat di Hotel Bintang Fajar Jl.Ngeksigondo Yogyakarta, dengan prakarsa dari Ditjen Industri Kecil dan Menengah Departemen Perindustrian RI. Adapun isi deklarasi tersebut meliputi Visi,Misi dan Rencana Aksi.

Visi : Terciptanya industri perhiasan perak DIY yang tangguh dan berdaya saing kuat di pasar global untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat DIY.

Misi :

  1. Meningkatkan kualitas SDM pengrajin dan pengusaha perhiasan perak di DIY.
  2. Meningkatkan daya saing produk perhiasan perak.
  3. Memperluas pemasaran perhiasan perak di pasar global.

Rencana Aksi :

  1. Menguatkan akses modal.
  2. Menjamin ketersediaan bahan baku dengan kualitas baik dan kompetitif.
  3. Optimalisasi pemanfaatan teknologi pemanfaatan teknologi ramah lingkungan dengan tetap menjaga kelestarian tradisi dan ciri khas Yogyakarta.
  4. Mengembangkan desain dan meningkatkan kualitas produk perhiasan perak di DIY.
  5. Mendorong iklim usaha yang kondusif pada Industri Perak di Yogyakarta.
  6. Meningkatkan sarana dan prasarana pendukung.
  7. Menjalin kerjasama dengan pihak baik pemerintah maupun swasta.
  8. Meningkatkan promosi.
  9. Mewujudkan minat dan kecintaan generasi muda terhadap kerajinan perhiasan perak.

Deklarator kesepakatan ini adalah para pegusaha perhiasan perak di DIY (Kotagede dan daerah lain), Dinas Perindag Prop DIY, Balai Besar Kerajinan dan Batik, Bappeda di lingkup DIY.

Selanjutya setelah ditandatangani kesepakan ini akan disusun/dituangkan dalam rencana kegiatan yang mempunyai prioritas pada aspek yang penting dan mendesak terlebih dahulu.(jonis)


Seminar Internasional Zat Warna Alam (30 Okt 2007)

Seminar Internasional tentang teknologi proses, pembuatan dan pemanfaatan zat warna alam (ZWA) dari ekstrak tumbuh-tumbuhan telah dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 30 Oktober 2007 bertempat di Hotel Sahid Yogyakarta. Seminar ini diprakarsai oleh Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta, dengan para pembicara yaitu Peneliti Zat Warna Alam dari Jepang (Miss. Sughemi), Peneliti Zat Warna Alam dari Taiwan, Chen Ching-Liin (diwakili oleh Bpk.Dwi Suheryanto), Praktisi Batik dengan ZWA (Bpk. Hendri Suprapto) dan Ibu Evi Yuliati Rufaida dari BBKB.


Berkaitan dengan isu global tentang "back to nature" yang sedang hangat di dunia internasional dan sejak dilarangnya pewarna dengan gugus azo pada April 1996 oleh pemerintah Belanda, seperti telah diketahui bahwa gugus azo dalam pewarna sintetis dapat menyebabkan kanker kulit, membuat kita berpikir ulang dalam aplikasi pewarna pada kain batik. Sehingga munculah ide untuk menggunakan kembali zat warna alam pada batik, yang sebenarnya sudah dilakukan oleh nenek moyang kita. Menurut Sughemi-san dalam makalahnya di dalam buku kuno di Jepang, sekitar zaman NARA (710–794 M) telah ditemukan proses fermentasi indigo tetapi hanya bisa membuat dan bisa mencelup warnanya pada musim panas ( sekitar bulan 6 s/d 8), karena Indigonya belum ditemukan cara penyimpanan. Sedangkan penggunaannya menurut beliau Orang zaman dulu nama warna indigo tua memanggil "Kachi-iro". Dan "Kachi" itu artinya "menang". Maksudnya dua hurup Kanji "Kachi" bentuknya berbeda, tetapi tata bacanya sama-sama "Kachi", oleh karena itu disebut "Kachi-iro" mempercayai "warna menang" meskipun rupa kanjinya lain pun, dan tentara Jepang yang zaman dahulu seperti SAMURAI senang dipakai sebagai baju tentara yang kain terbuat indigo tua karena mendoakan menang dan mengharap bisa kembali dari tempat/medan perang. Sedangkan menurut Mr. Chen Ching-Liin dalam makalahnya bahwa di Taiwan isu untuk kembali ke alam sudah digulingkan sejak tahun 1960an. Yang paling banyak digunakan dalam pewarnaan alam di jepang adalah dari bahan indigo alam yang mereka sebut Tennen-ai. Sedangkan jenis tanaman yang menghasilkan warna indigo ini adalah Polygonum tinctorium Lour atau dalam bahasa jepang disebut Tade-Ai.


Bapak Hendri Suprapto menyampaikan bahwa pada saat ini peminat batik dengan zat warna alam kebanyakan masih didominasi dari luar negeri, karena menurut beliau ada kaitannya dengan taste (cita rasa), kemampuan (daya beli) dan kesadaran dari masyarakat luar negeri berbeda dengan bangsa indonesia. Masih menurut beliau pangsa pasar untuk produk batik dengan zat warna alam 75 % beliau dapatkan buyer dari Jepang selebihnya Eropa, Amerikad dan Lokal.

Sedangkan Ibu Evi Yuliati Rufaida memaparkan tentang pengujian mutu bati di Balai Besar kerajinan dan Batik, yang telah mempunyai Laboratorium Uji dan Kalibrasi Industri Kerajinan dan Batik (LUK-IKB) dan pentingnya melindungi batik indonesia dan untuk menjaga kualitasnya dengan memberikan hak pemakaian batikmark"batik INDONESIA". Berikut adalah logo batikmark :




Dari hasil seminar ini diharapkan bahwa penggunaan zat warna alam untuk pewarnaan batik perlu lebih digalakkan dengan sinergi dari BBKB sebagai Balai Penelitian dan juga dari instansi lain seperti dinas peridag, civitas akademika maupun kalangan industri. Dan pengembangan lahan untuk penanaman pohon untuk diambil zat warnanya masih belum ditangani secara serius, selanjutnya bisa terwujud, sebab dari hasil perhitungan ekonominya juga manjanjikan.(jonis)

Batikmark" batik INDONESIA" (27 Okt 2007)

Sesuai Peraturan Menteri Perindustrian RI No. 74/M-IND/PER/9/2007 tentang Penggunaan Batikmark "batik INDONESIA" pada batik buatan Indonesia, maka BBKB merupakan Balai yang menerima permohonan dan menerbitkan sertifikat batikmark"batik INDONESIA"

Biaya Sertifikasi dan Syarat Mutu Batikmark :

  1. Biaya Administrasi Rp. 500.000
  2. Biaya Pengujian percontoh uji Rp. 242.000
  3. Biaya Pengambilan Contoh Rp. 250.000
  4. Biaya Perjalanan dan akomodasi petugas pengambilan contoh dibebankan kepada Perusahaan

Syarat Mutu :

  1. Memenuhi syarat mutu ciri batik (tulis,cap,kombinasi)
  2. Memiliki nilai mengkerut (perubahan dimensi) tidak lebih dari 3% untuk arah lusi dan pakan
  3. Memiliki tahan luntur warna terhadap pencucian (perubahan warna lebih baik atau sama dengan nilai 3-4 grayscale, penodaan warna lebih baik atau sama dengan nilai 3 staining scale)
  4. Memiliki tahan luntur warna terhadap gosokan (perubahan warna lebih baik atau sama dengan nilai 3-4 grayscale, penodaan lebih baik atau sama dengan nilai 3 staining scale)

Prosedur pengajuan Batikmark:

  1. Perusahaan mengajukan permohonan tertulis dan dilengkapi dengan profil perusahaan ditujukan kepada Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik di Yogyakarta.
  2. Balai Besar Kerajinan dan Batik melaksanakan pengambilan contoh uji di perusahaan.
  3. Contoh uji dilakukan pengujian di Laboratorium Uji dan Kalibrasi Industri Kerajinan dan Batik (LUK-IKB) yang terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) No LP-235-IDN untuk diuji sesuai dengan persyaratan mutu yang ditetapkan.
  4. Apabila hasil uji memenuhi syarat mutu, maka kepada perusahaan tersebut diberikan sertifkat penggunaan batikmark"batik INDONESIA" oleh Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta.
  5. Sertifikat akan diserahkan dalam waktu tidak lebih dari 30 hari kerja sejak contoh uji diambil dari perusahaan oleh petugas pengambil contoh yang ditunjuk.

Sertifikat Penggunaan Batikmark :

  1. Masa berlaku Sertifikat Penggunaan Batikmark selama 3 (tiga) tahun.
  2. Perpanjangan masa berlaku Sertifikat Penggunaan Batikmark diberikan apabila memenuhi ketentuan yang berlaku.
  3. Perusahaan wajib memberikan data dan informasi yang benar mengenai batik yan dimohonkan Sertifikat Penggunaan batikmark.
  4. Tidak boleh memindahtangankan batikmark"batik INDONESIA" kepada pihak yang tidak berhak.
  5. Apabila terjadi pelanggaran penggunaan batikmark"batik INDONESIA" dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
  6. Melaporkan jumalh batik yang menggunakan batikmark persemester (Minggu pertama bulan Juli dan Januari)

 
 

Temu Bisnis Kerjasama Dinas Perindag Tasikmalaya dan BBKB (27 Okt 2007)

Temu Bisnis Dalam Rangka Peningkatan dan Pengembangan Kemampuan para Pengusaha Tasikmalaya untuk Memasuki Pasar Internasional kerjasama Dinas Perindag Tasikmalaya dan Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta, telah dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 2007 di Quality Hotel Yogkakarta.


Pameran Produksi Eksport Daerah

Pameran Produksi Eksport Daerah tanggal 25-29 Okober 2007 yang bertempat di Jogja Expo Center, menyedot banyak pengunjung dan buyer yang datang.

Batik Mengalami Titik Terang di Jepang

Kepeloporan GKR. Hemas akan Sutera Liar, Atakas dan Criculla, mendapatkan respon positif masyarakat Jepang. Hasil Kolaborasi Seniman Indonesia dan Jepang diperlihatkan dan Penghargaan diserahkan di Kraton Kilen, Rabu 15 September 2004.
Masyarakat Perbatikan dan Persuteraan, GKR. Pembayun, President of PT. Yarsilk, Bambang Sumardiyono, Batik nakula Sadewa, Alex Iskandar, Tusmatex dan Simon Lenan, Lenan Pearl of Silk Rabu 15 September 2004, bertemu Ryoichi Nakanishi, Executive Director of The Japan Blue Association, Kazuhito Yano, President of Yano Co. Ltd., Hidemori Nakanishi, President of Miyabi Or Co. Ltd and Masato Kuroda, Board of Trustees, International Society for wild silkmoths untuk bekerjasama lebih intens dalam pemasaran Batik dan Sutera Liar di Jepang. PT. Yarsilk adalah perusahaan yang bergerak dibidang pemintalan benang sutera liar telah merintis kegiatannya sekitar 10 tahun silam, melalui pengembangan produk Sutera Liar Atakas dan Criculla yang telah dipelopori oleh GKR. Hemas dan beberapa pendiri lainnya. PT. Yarsilk bekerjasama dengan Jepang untuk mengembangkan Produk Sutera Liar yang dalam perkembangannya melibatkan para seniman Jepang untuk pengembangan dan inovasi produk terutama Sutera Atakas dan Criculla. Hal ini memiliki dampak produk-produk Indoensia lebih mudah diterima masyarakat Jepang. Hasil ini terlihat dari Pameran atas kerjasama PT.Yarsilk dan Balai Besar Kerajinan Batik (BBKB) di Jepang dan bahkan Kedutaan Besar Indonesia di Jepang sempat menggelar Fashion Show dan deminstrasi produk-produk Indonesia. Duta Besar Indonesia dan balai batik mengundang PT.Yarsilk mengadakan Pameran di Wisma Indonesia - Tokyo. Pameran ini menampilkan produk-produk hasil kolaborasi antara Bali batik, PT.Yarsilk dan Seniman Jepang. Kegiatan Pameran dilanjutkan oleh balai batik dan PT. Yarsilk serta Japan Blue Association di Tokyo. Pameran ini menyertakan 12 seniman Indonesia agar dapat mencari model kolaborasi dengan seniman Jepang sesuai dengan bidang seni yang ditekuninya, antara lain seni batik, wayang, tenun ikat, songket, sutera dan lain sebagainya yang dilanjutkan dengan kunjungan balasan seniman Jepang ke Indoensia.

(Dikutip dari www.batikindonesia.info)